Mukadimah

Marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT, Sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, para sahabatnya serta kepada seluruh umatnya sampai akhir jaman.

Alhamdulillah kita dapat melaksanakan puasa sampai dengan ke-15 dan menginjak hari ke-16 bisa melaksanakan shalat Isya yang dilanjutjan dengan shalat Tarawih berjamaah di Masjid Darussalam Bumi Asri Sukapura, semoga kita diberikan kekuatan dan kesehatan oleh Allah SWT dalam melaksanakan kewajiban puasa ini.

Saya akan menyampaikan kultum dengan thema:

“Kiat Islam mengatasi Kemiskinan “.

Jamaah Tarawih rahimakumullah.

Kemiskinan adalah fenomena yang begitu mudah dijumpai di mana-mana. Tak hanya di desa namun ada juga di kota. Di balik kemegahan gedung-gedung pencakar langit, tidak terlalu sulit kita jumpai rumah-rumah kumuh yang berderet di bantaran sungai, atau para pengemis yang berkeliaran di perempatan jalan.

Kata miskin berasal dari bahasa Arab yaitu sakana yang berarti diam atau tenang, sedangkan faqir berasal dari dari kata faqr yang pada mulanya berarti tulang punggung. Faqir adalah orang yang patah tulang punggungnya, dalam arti bahwa beban yang dipikulnya sedemikian berat sehingga “mematahkan” tulang punggungnya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, :

Kata “Miskin” diartikan sebagai tidak berharta benda; serba kekurangan (berpenghasilan rendah). Sedangkan fakir diartikan sebagai orang yang sangat berkekurangan; atau sangat miskin.

Pada poisi bulan Maret 2007 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk miskin di Indonesia sebanyak 37,17 juta jiwa atau sekitar 16,58 persen dari seluruh penduduk Indonesia.

Jamaah Tarawih rahimakumullah.

Kemiskinan termasuk masalah kemasyarakatan, yang faktor penyebab dan tolok ukur besarannya dapat berbeda untuk lokasi dan situasi yang lain, oleh karena itu perlu perhatian dalam mengentaskan kemiskinan tersebut.

Dalam mengatasi kemiskinan, agama Islam mempunyai beberapa cara untuk mengentaskannya, antara lain sebagai berikut :

1. Memberdayakan Sumber-Sumber Keuangan melalui :

a. Zakat : salah satu rukun Islam, dan mengeluarkan zakat ada aturan mengenai besaran & waktunya.

1). Zakat Mal / Harta

Firman Allah SWT dalam Surat At Taubah ayat 103,

yang artinya :

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi maha Mengetahui “.

2). Zakat Fitrah / Jiwa

Setiap menjelang Idul Fitri orang Islam diwajibkan membayar zakat fitrah sebanyak satu sha’ (2,5 kg = 3 liter) dari jenis makanan yang dikonsumsi sehari-hari dan diserahkan ke mustahiq sebelum shalat Idul Fitri.

Hal ini ditegaskan dalam hadist (H.R. Bukhari), dari Ibnu Umar, katanya:

“Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah, berbuka bulan Ramadhan, sebanyak satu sha’ (2,5 kg) tamra atau gandum atas setiap muslim merdeka atau hamba, lelaki atau perempuan

Orang yang berhak menerima zakat ada 8 Asnaf (golongan) dan ditetapkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat At taubah ayat 60 :

Artinya :

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

b. Infak & Shadaqah : tidak ada ukuran & waktunya, sebagaimana zakat, sehingga lebih fleksibel.

Infak & Shadaqah sangat dianjurkan kepada umat islam untuk mengeluarkan bagian hartanya bagi orang fakir dan miskin.

Rasa lapar yang dirasakan selama menjalani shaum Ramadan mestinya menumbuhkan kesadaran pada jiwa orang-orang mampu untuk semakin peduli terhadap kaum duafa.

Secara tegas Al-Quran menyatakan mereka yang enggan menyayangi anak yatim, orang fakir dan miskin sebagai orang yang telah mendustakan agama dan hari kemudian.

Allah SWT berfirman QS : Al-Maun ayat 1 s/d 3:

Artinya :

1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

2. Itulah orang yang menghardik anak yatim,

3. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

Kepada manusia bakhil, Allah sudah mengingatkan dalam Q.S. Ali Imran: 180 :

Artinya :

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

c. Wakaf : Dengan Wakaf tidak ada hak pemiliknya untuk mengambil manfaatnya dari harta yang diwakafkannya, selain kepentingan mardhati’llah.

Hasil produk wakaf dapat dimanfaatkan untuk kepentingan ummat Islam, dan sudah tentu fakir miskin menduduki posisi terhormat dalam wakaf ini, seperti bekerja di lembaga wakaf dan mendapat gaji dari hasil pekerjaannya.

Hadis Riwayat Imam Muslim, dari Abu Hurairah r.a sabda Rasulullah s.a.w;

“Apabila mati anak Adam, maka terputuslah segala amalannya melainkan tiga perkara : Sedekah jariah, Ilmu yang bermanfaat dan Anak soleh yang mendoakan untuknya“

d. Fidyah : memberi makan fakir miskin bagi orang yang tak kuasa untuk menjalankan ibadah puasa.

Atau terjadi hubungan suami istri di bulan puasa, maka wajib baginya memberi makan 60 fakir miskin.

e. Dam dalam berhaji : contoh jika ia mengerjakan haji tammatu’, maka wajib baginya memotong hadyu.

Pemotongan ditunaikan di tanah haram, didistribusikan untuk kaum fakir miskin di sekitar tanah haram. Tetapi ketika kebutuhan fakir miskin di sekitar tanah haram sudah tercukupi, maka daging tersebut boleh didistribusikan ke kantong-kantong kemiskinan di dunia.

Jamaah Tarawih rahimakumullah.

2. Bagaimana Pengaturan mekanisme dalam menyelesaikan Kemiskinan ?

Dalam mengatasi kemiskinan, Islam mempunyai cara yang memang tergolong unik dan sistematis. Allah menetapkan untuk mengatasi kemiskinan itu melalui:

· Lingkungan terkecil melalui keluarga,

· Lingkungan menengah melalui masyarakat, dan

· Lingkungan lebih besar melalui negara.

Adapun Pengaturan mekanisme yang dapat menyelesaikan kemiskinan tersebut adalah sebagai berikut :

a. Mewajibkan Laki-laki Memberi Nafkah Kepada Diri dan Keluarganya.

1). Islam mewajibkan laki-laki yang mampu, untuk bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhannya.

Allah SWT berfirman dalam surat Qs. al-Mulk [67] ayat 15 , yang artinya :

”Maka berjalanlah ke segala penjuru, serta makanlah sebagian dari rizeki-Nya.”

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:

Salah seorang diantara kalian pergi pagi-pagi mengumpulkan kayu bakar, lalu memikulnya dan berbuat baik dengannya (menjualnya), sehingga dia tidak lagi memerlukan pemberian manusia, maka itu baik baginya daripada dia mengemis pada seseorang yang mungkin memberinya atau menolaknya.”

Ayat dan hadits di atas menunjukan adanya kewajiban bagi laki-laki untuk bekerja mencari nafkah.

2). Bagi para suami diwajibkan memberi nafkah kepada anak dan istrinya.

Allah SWT berfirman dalam surat Qs. al-Baqarah [2]: 233) yang artinya:

”Kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf.”

“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal, sesuai dengan kemampuanmu.” (Qs. ath-Thalâq [65]: 6)

Jadi jelas, kepada setiap laki-laki yang mampu bekerja, pertama kali Islam mewajibkan untuk berusaha sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhannya dan keluarganya

Adapun terhadap kaum wanita, Islam tidak mewajibkan mereka untuk bekerja, tetapi Islam mewajibkan pemberian nafkah kepada mereka

b. Mewajibkan Kerabat Dekat untuk Membantu Saudaranya

Dalam Realita kehidupan menunjukkan bahwa tidak semua laki-laki punya kemampuan untuk bekerja mencari nafkah.

Jika demikian keadaannya lalu siapa yang akan menanggung kebutuhan nafkahnya?

Dalam kasus semacam ini, Islam mewajibkan kepada kerabat dekat yang memiliki hubungan darah, untuk membantu mereka

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Anfal ayat 75 :

Artinya :

Dan orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat).

Allah SWT berfirman dalam (QS Al-Isra’ [17]: 26).

Artinya :

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan.

Jadi jelas, jika seseorang secara pribadi tidak mampu memenuhi kebutuhannya, maka kewajiban memenuhi nafkah, beralih ke kerabat dekatnya.

c. Mewajibkan Warga Muslim untuk Membantu Tetangganya.

Bagaimana jika seseorang yang tidak mampu tersebut tidak memiliki kerabat? Atau dia memiliki kerabat, akan tetapi hidupnya pas-pasan?

Dalam kondisi semacam ini, kewajiban memberi nafkah adalah tetangganya.

Rasulullah Saw juga bersabda:

“Tidaklah beriman kepada-Ku, siapa saja yang tidur kekenyangan, sedangkan tetangganya kelaparan, sementara dia mengetahuinya.” [HR. al-Bazzar].

d. Mewajibkan Negara untuk Membantu Rakyat Miskin

Bagaimana jika seseorang yang tidak mampu tersebut tidak memiliki kerabat? Atau dia memiliki kerabat, akan tetapi hidupnya pas-pasan?, dan berada di lingkungan kaum miskin.

Dalam kondisi semacam ini, kewajiban memberi nafkah beralih ke Baitul Mal (kas negara). Dengan kata lain, negara melalui Baitul Mal, berkewajiban untuk memenuhi kebutuhannya rakyatnya.

Hadist Riwayat Imam Muslim, Rasulullah Saw pernah bersabda:

“Siapa saja yang meninggalkan harta, maka harta itu untuk ahli warisnya, dan siapa saja yang, meninggalkan ‘kalla’(orang yang lemah, tidak mempunyai anak, dan tidak mempunyai orang tua), maka dia menjadi kewajiban kami.”

Anggaran yang digunakan negara untuk membantu rakyat miskin yang tidak mampu, pertama-tama diambilkan dari kas zakat, apabila harta zakat tidak mencukupi, maka negara wajib mencarinya dari kas lain.

Selain itu Negara mempunyai kewajiban untuk memberi lapangan pekerjaan dan pendidikan bagi rakyatnya.

Rasulullah Saw pernah bersabda :

“Seorang Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat), dan ia akan diminta pertanggungjawaban terhadap urusan rakyatnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

e. Mewajibkan Kaum Muslim untuk Membantu Rakyat Miskin

Apabila di dalam Baitul Mal tidak ada harta sama sekali, maka kewajiban menafkahi orang miskin beralih ke kaum Muslim secara kolektif.

Allah SWT berfirman dalam Qs. adz-Dzariyat ayat 19 :

Artinya :

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. (orang miskin yang tidak meminta-minta)

Rasulullah Saw juga bersabda:

“Siapa saja yang menjadi penduduk suatu daerah, di mana di antara mereka terdapat seseorang yang kelaparan, maka perlindungan Allah terlepas dari mereka.” [HR. Imam Ahmad].

Jamaah Tarawih rahimakumullah.

Itulah kiat-kiat Islam dalam mengatasi kemiskinan. Apabila kiat-kiat itu dilaksanakan dengan benar secara kaffah, mulai pemimpin sampai rakyat paling bawah, mudah-mudahan masalah kemiskinan dapat dientaskan seperti yang pernah terjadi di zaman khalifah Umar bin Abdul Azis.

Demikianlah apa yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf atas segala kekurangannya.

Bilahit taufik wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh.